Jakarta, TabelMedia.com – Fenomena gelondongan kayu yang terbawa banjir di sejumlah daerah di Sumatera kembali menyita perhatian publik. Setiap kali curah hujan meningkat dan aliran sungai meluap, tumpukan kayu besar kerap muncul tanpa kejelasan asal-usul, seolah datang dari hulu yang tak terjangkau. Kejadian ini bukan hanya menimbulkan kerugian bagi warga, tetapi juga membuka pertanyaan besar terkait aktivitas di kawasan hutan serta kondisi lingkungan yang terus mengalami tekanan. Gelondongan kayu yang terseret arus bukanlah hal baru. Namun, meningkatnya intensitas kejadian dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa ada dinamika serius di baliknya. Banyak pihak menduga bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan kondisi hutan yang semakin gundul, baik akibat pembalakan liar maupun alih fungsi lahan.
Ketika curah hujan ekstrem terjadi, tanah yang kehilangan vegetasi penahan mudah longsor dan membawa serta batang-batang kayu yang tersisa di hutan atau pada area bekas tebangan. Namun, tidak bisa pungkiri bahwa banjir besar memang mampu menggerakkan material alam dalam jumlah besar, termasuk pohon tumbang yang telah lama berada di dasar hutan atau tepian sungai. Artinya, fenomena ini tidak selamanya menjadi bukti langsung adanya aktivitas ilegal, namun tetap memunculkan kewajiban bagi pihak berwenang untuk melakukan investigasi menyeluruh.
Fakta di Lapangan: Dari Mana Asal Gelondongan Kayu?
Di berbagai titik di Sumatera, warga melaporkan keberadaan kayu berukuran besar dengan kondisi berbeda-beda. Ada yang terlihat masih baru, seolah baru ditebang, dan ada pula yang lapuk seperti sudah lama tergolek di hutan. Perbedaan kondisi kayu ini menandakan bahwa sumbernya bisa beragam. Pada wilayah dengan riwayat pembalakan liar, kayu-kayu berdiameter besar yang hanyut seringkali dianggap sebagai sisa aktivitas penebangan yang tidak sempat angkut pelaku. Ketika banjir datang, sisa-sisa kayu ini terbawa arus menuju hilir.
Sementara di daerah yang masih memiliki hutan alam, pohon tumbang alami juga dapat menjadi bagian dari material yang ikut hanyut ketika bencana terjadi. Selain itu, alur sungai besar di Sumatera memiliki banyak anak sungai dari pegunungan dan daerah terpencil. Ketika hujan ekstrem turun serempak, tekanan air di hulu mengangkut berbagai material secara masif. Kondisi ini membuat pelusuran asal-usul kayu menjadi tantangan tersendiri bagi aparat dan dinas kehutanan.
Dampak bagi Lingkungan dan Masyarakat
Kehadiran gelondongan kayu besar berdampak langsung pada keselamatan warga. Pada aliran sungai, kayu dapat menutup aliran, memperparah banjir, atau merusak infrastruktur seperti jembatan dan tanggul. Warga di daerah hilir juga sering mengeluhkan rumah yang rusak akibat hantaman kayu terbawa arus. Dari sisi lingkungan, fenomena ini menjadi indikator bahwa hutan di daerah hulu mengalami gangguan. Jika tak segera tangani, siklus banjir yang membawa material kayu akan terus berulang.
Selain itu, kayu yang menumpuk di sungai dapat merusak ekosistem air dan mengganggu migrasi ikan. Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah, masyarakat, dan semua pihak yang terkait dengan pengelolaan hutan. Pemantauan terhadap aktivitas di kawasan hulu, penegakan hukum terhadap pembalakan ilegal. Serta rehabilitasi hutan menjadi langkah penting untuk mencegah fenomena ini berulang di masa depan.